Wednesday, December 10, 2014

Untitled

EVERYTHINGS LEAVE ME

       Bagaikan sebuah domino yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, perlahan namun pasti semua penopang itu telah berguguran. Ranting kayu sisa serpihan kasih sayang yang dahulu pernah ada menjadi sebuah gubuk kecil tempat yang dimanakan " Rumah " kini hancur seketika oleh terpaan angin. Kini tak ada lagi ruang untuk bernaung , tak ada lagi ruang untuk sejenak menyandarkan kepala di pangkuan sambil menikmati indahnya kebersamaan, tak ada lagi ruang untuk kembali menikmati kehidupan seperti yang didapatkan beberapa orang yaitu "Nyaman".

Kehidupan diawali merakit sebuah gubuk ditengah kondisi tubuh tak lagi seutuhnya tegar seperti biasanya. Mencoba mempercayai sebuah kata yang bernama "Kepercayaan" oleh orang-orang yang seharusnya menjadi tauladan kepada kita tapi mungkin memang takdir mengatakan untuk mereka tak lagi bersama. Semangat untuk merajut sebuah masa depan yang lebih baik, masa depan yang akan mengembalikan sebuah keceriaan yang dimana ada dalam sebuah keluarga yang dahulunya pernah ada. Saya hanya ingin melihatnya kembali tersenyum oleh kegigihan anak-anaknya melihat hidup mandiri untuk membuatnya tidak merasa sendiri dan tetap berada di jalan kebenaran sang pencipta. Namun, ntah apa yang membuatnya mengambil sikap yang membuat kami semua tak percaya apa yang telah dia lakukan. kami tahu kau benar-benar merasakan kesedihan atas masalah yang telah terjadi, tapi ingatlah kami masih ada, kami masih membutuhkan sosok mu, sosok yang menjadi peri kehidupan kami. Tolong mengertilah perasaan kami yang menjadi korban atas keputusan kalian dan singkirkan sifat kegoisan semata untuk merajut kembali keluarga yang dulu pernah ada walau tidak seutuh dahulu.

orang tuanya yang menjadi orang tua kami yang kami sebut Kakek dan Nenek pun merasakan hal yang sama seperti halnya kami. Sosok seorang ayah walaupun sudah renta namun tetap ingin melindungi anaknya dengan caranya yaitu diam didepan namun memperhatikan dari belakang. beliau juga yang merawat saya ketika kalian  berdua berusaha menafkahi kami anakmu. kami mengerti, kehidupan memang membutuhkan banyak materi untuk hidup lebih layak namun ada konsekuensi dibalik itu semua yaitu kami kurang mendapat kasih sayang secara utuh tapi kami tetap mengakui kalian sebagai orang tua kami hingga saat ini. Ketika orang tua lanjut usia itu secara tiba-tiba menceritakan semua kelakuan yang engkau lakukan kepada saya, tak hanya sebuah cerita namun air mata dan pelukan hangat yang tidak biasanya mereka tunjukkan kepada saya. Saya tidak bisa berkata-kata melihatnya, namun tak hanya sekilas cerita namun ceritanya itupun berlanjut hingga sang Kakek itu tak tahan menahan pikiran hingga dia jatuh sakit. Pada saat itu semua pemikiran saya mengenai kepercayaan mulai memudar, ntah semua bukti itu secara langsung diperlihatkan kepada saya secara mudahnya namun semuanya saya simpan rapi didalam memori ini. 

Disaat semua kejadiaan ini saya tidak mengharapkan banyak oleh keadaan sekitar hanya kebersamaan terhadap orang-orang yang saya percayakan kita mempunyai tingkat kepedulian yang sama, sebuah ikatan silahturahmi melebihi dari seorang teman yaitu Persahabatan, mereka mengetahui kondisi saya yang sudah tak memiliki kebersamaan yang sama seperti keluarga mereka karena kita memulai persahabatan semenjak SMA. saya tak banyak bicara untuk lebih memprioritaskan mereka sahabat dibandingkan kepentingan-kepentingan lainnya seperti organisasi, bahkan hingga akademik. bagi saya mereka adalah sekelompok orang yang menjadi rumah kedua saya untuk melupakan segala polemik yang ada di sana. Semua kembali berubah ketika mereka mempunyai aktivitas yang lain untuk masa depan mereka masing-masing. Tak ada lagi kebersamaan yang membuat saya bisa selalu lupa dengan masalah yang ada disana, saya pun tak menuntut banyak dari mereka karena saya mengerti kalian mempunyai urusan yang mesti kalian selesaikan sendiri. 
Mungkin karena jarangnya kita bersama seperti dahulu terjadi permasalahan yang membuat kami saling menuntut untuk bertukar cerita. Sehingga menimbulkan beberapa argument yang menyudutkan saya untuk kembali berintropeksi diri apakah saya pantas menerima kepedulian mereka ? maafkan bila saya tak banyak bertukar cerita apa yang terjadi hanya karena saya tak mau menitipkan beban yang berat untuk kalian yang tak harusnya kalian pikirkan tapi saya tetap mengusahakan kebersamaan bersama kalian walaupun beberapa diantara kalian sudah tak lagi memperdulikannya, tapi saya tetap berusaha dibalik semua kegiatan saya yang cukup padat untuk bersama kalian walau hanya 1 jam atau 2 jam saja.
kini tak ada lagi cerita diantara kita , tak ada lagi senda gurau diantara saya dan mereka bukan karena saya tak mau menjalin persahabatan seperti sedia kalanya namun saya lebih baik tak ada cerita yang membuat kalian tak lagi mempolemikkan semuan ini

selain mempunyai sekolompok sahabat saya mempunyai seorang teman dekat. saya tak lagi hanya memikirkan untuk menjadikan dia seorang kekasih ucapan yang biasanya namun saya sudah lebih memikirkannya untuk menjadi teman hidup. Terlalu cepat memang tapi melihat pengalaman dari kedua saudara saya yg sudah menikah itu memberikan saya masukan untuk lebih mengutamakannya. Saya fikir dialah yang kelak menjadi pendamping saya hingga tua apasalahnya saya meluangkan sebagian waktu untuk mengikuti dan masuk kedalam kehidupan sekarang. Kehidupan yang berbeda yang berada di lingkungan tempat sementara saya merantau. namun semuanya saya berusaha mengedepankan kepentingannya dibandingkan kepentingan saya. Namun, kondisi rumah membuat saya berusaha menceritakannnya tentang apa yang terjadi, saya mengerti kesibukannya mengikuti organisasi yang sedang dia geluti. Salah saya pernah memaksanya untuk memintanya waktu di sela kesibukkannya dan akademiknya sehingga memaksa saya untuk memutar otak untuk mencari waktu yang lebih baik. Anggapan saya mungkin di sela kebutuhannya seperti makan pagi yang sering dilakukan bersama sahabatnya bisa menjadi opsi , opsi lainnya adalah ketika dia mendapati sebuah problem tentang simcardnya sehingga disela perjalan saya bisa menceritakannya , dan opsi terakhir adalah ketika dia sedang dalam perjalanan pulang. saya ingin menceritakan apa yang ada dibenak saya , yang terkadang membuat saya emosi tanpa sebab ketika mendapati bukti yang membuat kepercayaan terhadap sosok peri kehidupan pudar. menceritakan sosok kakek yang sakit-sakitan ketika memikirkan anaknya dan seorang nenek yang setiap saya temui selalu menangis dan memeluk saya sambil bercerita. Semua opsi tersebut saya telah coba namun tak ada cerita yang saya utarakan kepadanya namun kembali menjadi tuntutan yang secara diluar nalar saya tak harusnya saya meminta kepadanya hal yang dikarenakan emosi yang luar biasa yang saya rasakan ketika mendapat tekanan dari masalah nan jauh disana. hingga akhirnya terlontarlah sebuah keputusan yang memisahkan ikatan ini.

saya berusaha tegar dengan apa yang terjadi bahkan saya mencoba kembali beraktivitas seperti biasanya mengikuti organisasi yang sudah mendapat amanah sebelumnya namun terkadang kurangnya kepercayaan diri saya muncul secara berkala dimana masalah tak kunjung usai namun semunya polemik dan perpisahan malah terjadi. Bahkan saya disadarkan oleh beberapa orang untuk melakukan amanah dengan sebaik-baiknya hingga saya memutuskan setelah amanah itu saya akan kembali ke kehidupan dimana yang menjadi akar permasalahan selama ini yaitu berada kembali pada "Keluarga". saya berencana untuk merawat kembali sosok kakek dan nenek yang dahulunya mengasuh saya selama kurang lebih sekitar 14 tahun sebelum terjadi perpecahan melanda. saya berusaha untuk mengembalikan semangat mereka, meredakan pemikiran mereka tentang apa yang terjadi . Namun kembali kepada kuasa Allah, manusia boleh merencanakan tapi rencana Allah mungkin yang terbaik.
ketika selesai kepanitiaan itu berlangsung tak lama kemudia sosok Kakek itu menghembuskan nafas terakhirnya dikala saya sedang mempersiapkan diri untuk bangkit dari segala keterpurukan yang ada. 
masih tak mempercayai begitu cepatkah ini terjadi  ? karena dari sosoknya saya seperti sekarang ini dan dari sosoknya lah saya belajar banyak hal dan saya ingin mendiang melihat saya ketika wisuda nanti. Karena setiap saya bertemunya selain beliau menceritakan kejadian masalah mendiang juga menanyakan kembali berapa tahun lagi saya wisuda seakan-akan mendiang sudah tak sabar ingin melihat saya untuk memakai toga dan sambil memegang sertifkat bergelar S.Kom
kini tak ada lagi sosok yang berusaha ada , berusaha melindungi walaupun apa yang terjadi.

Tak ada lagi ayah yang mementingkan 1 keluarga, tak ada lagi kebersamaan persahabatan seperti dahulu, tak ada lagi sosok teman hidup yang saya sudah pilih, tak ada kasih sayang penuh oleh seorang ibu bahkan tak ada lagi sosok kakek yang menegarkan saya akan semua ini.

Terima kasih, mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk saya ... hanya bait doa yang saya bacakan disela semua doa saya untuk kebaikan kalian dan teruntuk mendiang agar kelak mendapatkan tempat terindah yaitu surganya Allah.

Wednesday, May 14, 2014

Penyesalan

Bahagia memang saat berada ditengah-tengah orang yang kita sayang dan orang tersebut sayang sama kita
Namun, setiap orang mempunyai masa lalunya yang ngebuat dia bisa sampai saat sekarang, selalu ada ketakutan yang gue alami sampai sekarang bahkan berujung sebuah dilema.
Mungkin memang terlihat lebay tapi gue gak mengarang sebuah cerita karena semuanya sudah diberikan alurnya oleh Allah.
Dahulu gue orangnya sangatlah cuek dengan orang sekitar, yaah gue lebih cenderung sebagai pengikut daripada menjadi seorang inisiator.

yaah gue tau setiap orang mempunyai masalah masing-masing, bahkan ada yang bilang gue terlalu undestimate sama lingkungan. yang gak harusnya gue pikir masalah itu sendiri gue pikirin secara berlebihan. Dari kata-kata ini gue sadar siapa gue. Gue dilahirkan sebagai seorang penengah dalam segala masalah terjadi. sehingga masalah itu melibatkan gue dan disanalah gue yang menjadi inisiator buat ngerubah menjadi baik. Karena kenapa ? yang terlibat dalam masalah itu hanya menghadapi masalahnya dengan mengalir aja.

Hanya untuk klarifikasi atas apa yang terjadi sebelumnya..
gue cuman mau memperbaiki sesuatu hal yang terpecah belah itu dengan sebuah obrolan santai, kebersamaan untuk menyatukan sudut pandang, Keterbukaan pemikiran satu sama lain dan yang terakhir membuat bahagia dan nyaman ketika bersama

Kesalahan gue adalah terlalu terburu-buru mengatakan apa yang menjadi seharusnya terjadi karena gue tau dia butuh waktu. tapi mau apa sekarang semuanya terlambat
semuanya sudah berakhir dan bahkan kemungkinan untuk kembali kecil dilihat dari sikap dan juga tindakan yang diberikan

Sadar atau tidak gue selalu bahagia melihatnya tersenyum bahagia dan tertawa. kini gue tau batasannya gak ada lagi yang bisa gue perbuat selain hanya berdoa agar kebahagian selalu menyertainya.

Mungkin lu berfikir gue itu gak satu pemikiran sama lu.
jika lu masih berfikir demikian coba liat seberapa perjuangan gue berusaha selalu ada, gue gak mau semuanya berjalan flat,
karena ada pepatah " Yang special akan tergantikan dengan yang selalu ada"
itu lah yang gue cerna matang-matang. gue coba mengabaikan permasalahannya . gue bahkan berusaha ngomong baik-baik dan meluangkan waktu yang mungkin lu berfikir hanya waktu lu yang padat dengan aktivitas.
Kini bisa lu lihat ketika sendiri gue meluangkan aktivitas dengan sebuah organisasi ataupun mengikuti event. Ketika kita bersama gue coba mengatur waktu untuk menjalin kebersamaan.
karena ingat Janganlah kehidupan yang mengatur kita , tapi kitalah yang harus mengatur kehidupan kita karena kitalah yang menjadi pemain utama dalam skenario Allah.


Terima Kasih


Garfield :)

Wednesday, April 16, 2014

Kehidupan

KEHIDUPAN......

Semuanya pada awalnya terlihat baik-baik saja ...
ketika masalah datang, gue coba buat hadapi tapi masalah lain datang.....
entah ujian ini gue berharap kelak akan indah pada akhirnya....
amiin...

orang yang mengenal sosok gue waktu sd ialah periang , pinter matematika, jahil
namun beranjak ke smp semua sikap itu seakan gue gak tau kenapa gk ada lagi.
gue mulai mengikuti pergaulan kehidupan jakarta yang sering menjadi wacana anak muda...
gue mulai sering nongkrong, pulang malam, yaah kerasnya jakarta pada waktu itu sempat gue rasakan walaupun hanya dalam wilayah kemayoran aja...
Klo ditanya lu pernah ikut tawuran ? ngerokok ? judi ?
iyaa semua pernah gue lakuin...
walau hanya sebatas itu gue udah merasa bersalah sampai sekarang gue pernah ngelakuin itu semua....

ada yang membuat gue berubah diri dan selalu intropeksi diri sampai sekarang bahkan perilaku gue selalu berubah-berubah ketika setiap ujian datang...

kehidupan rumah yang hal layaknya mungkin bagi segelintir orang tidak menyadarinya yang beratapkan dengan kedua orang tua , mendapatkan kasih sayang penuh dari mereka dalam rumah , canda , tawa, omelan , kebersamaan dalam rumah itulah yang sampai saat ini gue kehilangan moment.
kini moment itu berubah menjadi sosok yang terpecah belah, ketika gue berada di sebelah pihak seakan-akan gue membela pihak itu.. hingga saat ini masih seperti ini....

semenjak itu, gue berusaha diri untuk menempatkan pada posisi dimana gue nyaman didalamnya gue akan berjuang untuk memberikan kontribusi penuh untuk menjaga kebersamaan itu walaupun mesti mengorbankan waktu gue sekalipun..


jujur, gue kenal persahabatan dari mereka teman sma...
ridwan agung, umdatul qori, amelia lindani, basyiru rahman, fide kristopan, ruth meliani , desi rosdiana, isabella sianturi dan galih puspita.
walaupun kita sekarang sudah udah berbeda lokasi satu sama lain , insyaallah dengan terjaganya komunikasi diantara kita tetap terjalin, kita tetap bisa berkumpul , bercerita , berbagi suka cita, maupun lainnya...
sempet ada yang berkata "ngapain lu man bolak-balik jakarta dalam satu hari untuk ngerayain temen ultah ? apalagi lu naik motor bolak-balik bahaya dijalan belum lagi pasti capek?"

semuanya gue lakuin ada alasannya, merekalah yang membuat hidup gue bisa sampai sekarang. dan gue gak mau ngelewatin moment-moment yang membuat salah satu dari mereka bahagia gue gak ada.. karena gue gak mau kehilangan moment yang seharusnya masih bisa gue usahain untuk lakuin tapi nggak dilakuin. Walaupun gue harus rela izin kuliah ataupun mengganti jadwal serta ngorbanin jadwal lainnya demi kumpul.


yaaa inilah gue sekarang , dengan pengalaman yang udah kehilangan arti penting keluarga. kini gue sadar betapa pentingnya dicintai dan gue gk mau kehilangan itu lagi ..
memang dilihat gue memaksakan kehendak , tapi alasan gue jelas hanya ingin membuat moment kebahagian itu terlihat dari orang-orang yang gue sayangi walaupun gue gk pernah bilang untuk apa gue lakuin ini semua...

makasih buat segala mereka yang telah mengisi kehidupan gue , selama gue tulus ngejalaninnya gue akan lakuin pengorbanan apapun untuk ngelakuinnya...
sekali lagi terima kasih :')