EVERYTHINGS LEAVE ME
Bagaikan sebuah domino yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya, perlahan namun pasti semua penopang itu telah berguguran. Ranting kayu sisa serpihan kasih sayang yang dahulu pernah ada menjadi sebuah gubuk kecil tempat yang dimanakan " Rumah " kini hancur seketika oleh terpaan angin. Kini tak ada lagi ruang untuk bernaung , tak ada lagi ruang untuk sejenak menyandarkan kepala di pangkuan sambil menikmati indahnya kebersamaan, tak ada lagi ruang untuk kembali menikmati kehidupan seperti yang didapatkan beberapa orang yaitu "Nyaman".
Kehidupan diawali merakit sebuah gubuk ditengah kondisi tubuh tak lagi seutuhnya tegar seperti biasanya. Mencoba mempercayai sebuah kata yang bernama "Kepercayaan" oleh orang-orang yang seharusnya menjadi tauladan kepada kita tapi mungkin memang takdir mengatakan untuk mereka tak lagi bersama. Semangat untuk merajut sebuah masa depan yang lebih baik, masa depan yang akan mengembalikan sebuah keceriaan yang dimana ada dalam sebuah keluarga yang dahulunya pernah ada. Saya hanya ingin melihatnya kembali tersenyum oleh kegigihan anak-anaknya melihat hidup mandiri untuk membuatnya tidak merasa sendiri dan tetap berada di jalan kebenaran sang pencipta. Namun, ntah apa yang membuatnya mengambil sikap yang membuat kami semua tak percaya apa yang telah dia lakukan. kami tahu kau benar-benar merasakan kesedihan atas masalah yang telah terjadi, tapi ingatlah kami masih ada, kami masih membutuhkan sosok mu, sosok yang menjadi peri kehidupan kami. Tolong mengertilah perasaan kami yang menjadi korban atas keputusan kalian dan singkirkan sifat kegoisan semata untuk merajut kembali keluarga yang dulu pernah ada walau tidak seutuh dahulu.
orang tuanya yang menjadi orang tua kami yang kami sebut Kakek dan Nenek pun merasakan hal yang sama seperti halnya kami. Sosok seorang ayah walaupun sudah renta namun tetap ingin melindungi anaknya dengan caranya yaitu diam didepan namun memperhatikan dari belakang. beliau juga yang merawat saya ketika kalian berdua berusaha menafkahi kami anakmu. kami mengerti, kehidupan memang membutuhkan banyak materi untuk hidup lebih layak namun ada konsekuensi dibalik itu semua yaitu kami kurang mendapat kasih sayang secara utuh tapi kami tetap mengakui kalian sebagai orang tua kami hingga saat ini. Ketika orang tua lanjut usia itu secara tiba-tiba menceritakan semua kelakuan yang engkau lakukan kepada saya, tak hanya sebuah cerita namun air mata dan pelukan hangat yang tidak biasanya mereka tunjukkan kepada saya. Saya tidak bisa berkata-kata melihatnya, namun tak hanya sekilas cerita namun ceritanya itupun berlanjut hingga sang Kakek itu tak tahan menahan pikiran hingga dia jatuh sakit. Pada saat itu semua pemikiran saya mengenai kepercayaan mulai memudar, ntah semua bukti itu secara langsung diperlihatkan kepada saya secara mudahnya namun semuanya saya simpan rapi didalam memori ini.
Disaat semua kejadiaan ini saya tidak mengharapkan banyak oleh keadaan sekitar hanya kebersamaan terhadap orang-orang yang saya percayakan kita mempunyai tingkat kepedulian yang sama, sebuah ikatan silahturahmi melebihi dari seorang teman yaitu Persahabatan, mereka mengetahui kondisi saya yang sudah tak memiliki kebersamaan yang sama seperti keluarga mereka karena kita memulai persahabatan semenjak SMA. saya tak banyak bicara untuk lebih memprioritaskan mereka sahabat dibandingkan kepentingan-kepentingan lainnya seperti organisasi, bahkan hingga akademik. bagi saya mereka adalah sekelompok orang yang menjadi rumah kedua saya untuk melupakan segala polemik yang ada di sana. Semua kembali berubah ketika mereka mempunyai aktivitas yang lain untuk masa depan mereka masing-masing. Tak ada lagi kebersamaan yang membuat saya bisa selalu lupa dengan masalah yang ada disana, saya pun tak menuntut banyak dari mereka karena saya mengerti kalian mempunyai urusan yang mesti kalian selesaikan sendiri.
Mungkin karena jarangnya kita bersama seperti dahulu terjadi permasalahan yang membuat kami saling menuntut untuk bertukar cerita. Sehingga menimbulkan beberapa argument yang menyudutkan saya untuk kembali berintropeksi diri apakah saya pantas menerima kepedulian mereka ? maafkan bila saya tak banyak bertukar cerita apa yang terjadi hanya karena saya tak mau menitipkan beban yang berat untuk kalian yang tak harusnya kalian pikirkan tapi saya tetap mengusahakan kebersamaan bersama kalian walaupun beberapa diantara kalian sudah tak lagi memperdulikannya, tapi saya tetap berusaha dibalik semua kegiatan saya yang cukup padat untuk bersama kalian walau hanya 1 jam atau 2 jam saja.
kini tak ada lagi cerita diantara kita , tak ada lagi senda gurau diantara saya dan mereka bukan karena saya tak mau menjalin persahabatan seperti sedia kalanya namun saya lebih baik tak ada cerita yang membuat kalian tak lagi mempolemikkan semuan ini
selain mempunyai sekolompok sahabat saya mempunyai seorang teman dekat. saya tak lagi hanya memikirkan untuk menjadikan dia seorang kekasih ucapan yang biasanya namun saya sudah lebih memikirkannya untuk menjadi teman hidup. Terlalu cepat memang tapi melihat pengalaman dari kedua saudara saya yg sudah menikah itu memberikan saya masukan untuk lebih mengutamakannya. Saya fikir dialah yang kelak menjadi pendamping saya hingga tua apasalahnya saya meluangkan sebagian waktu untuk mengikuti dan masuk kedalam kehidupan sekarang. Kehidupan yang berbeda yang berada di lingkungan tempat sementara saya merantau. namun semuanya saya berusaha mengedepankan kepentingannya dibandingkan kepentingan saya. Namun, kondisi rumah membuat saya berusaha menceritakannnya tentang apa yang terjadi, saya mengerti kesibukannya mengikuti organisasi yang sedang dia geluti. Salah saya pernah memaksanya untuk memintanya waktu di sela kesibukkannya dan akademiknya sehingga memaksa saya untuk memutar otak untuk mencari waktu yang lebih baik. Anggapan saya mungkin di sela kebutuhannya seperti makan pagi yang sering dilakukan bersama sahabatnya bisa menjadi opsi , opsi lainnya adalah ketika dia mendapati sebuah problem tentang simcardnya sehingga disela perjalan saya bisa menceritakannya , dan opsi terakhir adalah ketika dia sedang dalam perjalanan pulang. saya ingin menceritakan apa yang ada dibenak saya , yang terkadang membuat saya emosi tanpa sebab ketika mendapati bukti yang membuat kepercayaan terhadap sosok peri kehidupan pudar. menceritakan sosok kakek yang sakit-sakitan ketika memikirkan anaknya dan seorang nenek yang setiap saya temui selalu menangis dan memeluk saya sambil bercerita. Semua opsi tersebut saya telah coba namun tak ada cerita yang saya utarakan kepadanya namun kembali menjadi tuntutan yang secara diluar nalar saya tak harusnya saya meminta kepadanya hal yang dikarenakan emosi yang luar biasa yang saya rasakan ketika mendapat tekanan dari masalah nan jauh disana. hingga akhirnya terlontarlah sebuah keputusan yang memisahkan ikatan ini.
saya berusaha tegar dengan apa yang terjadi bahkan saya mencoba kembali beraktivitas seperti biasanya mengikuti organisasi yang sudah mendapat amanah sebelumnya namun terkadang kurangnya kepercayaan diri saya muncul secara berkala dimana masalah tak kunjung usai namun semunya polemik dan perpisahan malah terjadi. Bahkan saya disadarkan oleh beberapa orang untuk melakukan amanah dengan sebaik-baiknya hingga saya memutuskan setelah amanah itu saya akan kembali ke kehidupan dimana yang menjadi akar permasalahan selama ini yaitu berada kembali pada "Keluarga". saya berencana untuk merawat kembali sosok kakek dan nenek yang dahulunya mengasuh saya selama kurang lebih sekitar 14 tahun sebelum terjadi perpecahan melanda. saya berusaha untuk mengembalikan semangat mereka, meredakan pemikiran mereka tentang apa yang terjadi . Namun kembali kepada kuasa Allah, manusia boleh merencanakan tapi rencana Allah mungkin yang terbaik.
ketika selesai kepanitiaan itu berlangsung tak lama kemudia sosok Kakek itu menghembuskan nafas terakhirnya dikala saya sedang mempersiapkan diri untuk bangkit dari segala keterpurukan yang ada.
masih tak mempercayai begitu cepatkah ini terjadi ? karena dari sosoknya saya seperti sekarang ini dan dari sosoknya lah saya belajar banyak hal dan saya ingin mendiang melihat saya ketika wisuda nanti. Karena setiap saya bertemunya selain beliau menceritakan kejadian masalah mendiang juga menanyakan kembali berapa tahun lagi saya wisuda seakan-akan mendiang sudah tak sabar ingin melihat saya untuk memakai toga dan sambil memegang sertifkat bergelar S.Kom
kini tak ada lagi sosok yang berusaha ada , berusaha melindungi walaupun apa yang terjadi.
Tak ada lagi ayah yang mementingkan 1 keluarga, tak ada lagi kebersamaan persahabatan seperti dahulu, tak ada lagi sosok teman hidup yang saya sudah pilih, tak ada kasih sayang penuh oleh seorang ibu bahkan tak ada lagi sosok kakek yang menegarkan saya akan semua ini.
Terima kasih, mungkin memang ini jalan yang terbaik untuk saya ... hanya bait doa yang saya bacakan disela semua doa saya untuk kebaikan kalian dan teruntuk mendiang agar kelak mendapatkan tempat terindah yaitu surganya Allah.